Beberapa Permasalahan Pada Remaja

Posted by rrr08 on 20 June 2010 in Academic |

Permasalahan-Permasalahan Anak Usia Remaja

Permasalahan Remaja

Seperti kita ketahui bahwa masa remaja adalah masa dimana banyak masalah yang terjadi.  Beberapa masalah tersebut diantaranya adalah dikeluarkan dari sekolah, meminum minuman beralkohol dan memakai obat-obatan, kabur dari rumah, serta bermasalah dengan hukum.

Perilaku sexual yang terjadi pada remaja biasanya menyebabkan kehamilan. Kejadian ini menyebabkan remaja mengalami depresi/schizophrenia.

  1. 1. Kehamilan pada remaja

Di amerika ada sebuah komunitas dimana remaja yang hamil tidak menikah. Sekitar 75% remaja muda dan 33% berusia 18-19 tahun. Satu dari 10 remaja putri Amerika hamil saat berusia 17 tahun, 1 dari 4 orang hamil pada berusia 19 tahun dan 8 dari 10 memilih untuk tidak menikah. Antara 1 dari 4 remaja putri yang aktif dalam berhubungan sexual mengaku mengalami kehamilan pada usia 17 dan 1 dari 3 mengalaminya saat berusia 19. Namun 1 dari 3 remaja putrid memilih untuk melakukan aborsi. Pada data menunjukkan 600.000 bayi terlahr dari ibu yang berusia dibawah 20 tahun.

1). Konsekuensi pada Orangtua remaja

Sebagian besar remaja dengan status ekonomi rendah memilih untuk tetap merawat bayinya, beberapa dari mereka memilih untuk  menjadi single parent dan ada pula yang akhirnya menikah. Sedangkan pada remaja putri dengan status ekonomi sedang dan menengah keatas biasanya memilih untuk aborsi, bersedia bayinya untuk diadopsi ataupun menikah. Tapi 1 dari 3 remaja yang memilih untuk menikah biasanya berakhir dengan perceraian. Ada konsekuensi yang harus dihadapi oleh orang tua remaja, bayi mereka dan masyarakat di sekitarnya. Bagi remaja putri sendiri konsekuensi yang harus dihadapi adalah ketika hamil mereka akan mengalami anemia, kesulitan yang panjang. Dan toxemania. Ibu muda seringkali melahirkan  bayinya dibawah umur seharusnya sehingga bayi dilahirkan premature.

2). Mengapa Remaja Hamil?

Menurut beberapa teori beranggapan bahwa banyak remaja hamil untuk kepuasan dalam kebutuhan psikologi. Furstenberg menemukan bahwa ibu muda  dalam studi tidak memiliki perbedaan pendapat  dalam kebiasaan sexual mereka. Mereka ingin memliki bayi tapi dalam kenyataannya mereka hamil dengan tidak sengaja. Biasanya remaja yang hamil tidak memakai alat kontrasepsi. Sekitar 4 dari 5 remaja mengaku bahwa mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi.  Alasan kedua yang menyebabkan remaja hamil adalah mereka tidak mengetahui tempat untuk membeli alat kontasepsi dan alat kontrasepsi terlalu mahal untuk mereka beli. Alasan ketiga adalah para remaja takut orangtua mereka menemukan alat kontasespsi yang mereka punya. Remaja putrid beranggapan bahwa dengan melakukan aborsi itu dilegalkan dan mudah untuk melakukannya, jadinya beberapa dari mereka merasa bahwa jika terjadi kehamilan maka mereka akan melakukan aborsi.

3). Kebutuhan yang dibutuhkan dari Orangtua Remaja

Remaja yang hamil membutuhkan perhatian yang spesial. Kebanyakan dari remaja hamil membutuhkan ketenangan hati untuk merawat bayinya. Dia membutuhkan komunikasi dan simpati dari orang sekitar.

  1. 2. Dikeluarkan dari Sekolah

Yang paling banyak DO (drop out) adalah murid kulit hitam yang miskin walaupun 4 dari 5 orang DO adalah kulit putih. Kebanyakan dari yang DO itu memiliki IQ normal yaitu 110 atau lebih. Kebanyakan dari mereka DO karena masalah fisik, keadaan keluarga yang memaksa, remaja yang bekerja.

  1. 3. Bunuh diri

Fenomena bunuh diri kini banyak terjadi di kalangan remaja. salah satu penyebabnya adalah perasaaan stress yang sangat tinggi. Perasaaan tertekan ini dapat dikarenakan oleh kurikulum pembelajaran di sekolah yang sangat ketat, masalah dengan pacar, tingkatan yang parah di dalam sekolah, ataupun kehamilan di luar nikah. Sedangkan dari lingkungan keluarga yang sangat mempengaruhi adalah lingkungan keluarga yang tidak stabil dan tidak bahagia.

  1. 4. Juvenile delinquency

Juvenile delinquency mengacu kepada sejumlah prilaku ayng tidak dapat diterima oleh norma masyarakat. Kerusakan moral ini dibedakan menjadi dua , yaitu index offenses dan status offenses. Index offenses adalah prilaku kriminal, misalnya perampokan oleh remaja. sedangkan status offenses contohnya adalah kabur dari rumah, minum-minuman keras, kelainan prilaku seksual, serta prilaku yang tidak dapat dikontrol. Juvenile delinquency dipengaruhi oleh faktor-faktor dibawah ini, yaitu:

ü      Family process

ü      Kelas sosial dan lingkungan tetangga. Lingkungan budaya dengan kelas sosial yang rendah memiliki kecenderungan untuk membentuk remaja yang terjun ke dunia kekerasan.

  1. 5. Pemakaian Obat-Obatan

  1. 6. Kelainan makan
  • Anoreksia Nervousa

Penyakit yang biasanya terjadi pada anak yang ramah, berkelakuan baik, gadis yang tampaknya penuh dengan kasih sayang, stabil, terdidik,  dari keluarga baik. Dalam keluarga ini sering kali ada penekanan besar pada makanan dan pola makan. Gadis-gadis ini justru cenderung sibuk dengan makanan, dan suka mendorong orang lain untuk makan. Mereka ikut dalam makan besar, tapi kemudian diikuti  dengan puasa panjang, memaksakan diri untuk muntah, berolahraga berat (berlebihan), atau melakukakan sesustu dengan obat pencahar. Kondisi ini sering muncul setelah seseorang telah mengatakan sesuatu kepada gadis-gadis tentang  lemak (kegemukan), atau yang lain segera setelah menarche.

  • Bulimia

Berbeda dengan anoreksia yang tidak mau makan, remaja yang mengalami bulimia tidak dapat menahan keinginannnya untuk makan. Namun setelah makan sesuatu, umumnya mereka memuntahkannya karena tidak ingin menjadi gemuk. Bulimia cenderung terjadi pada perempuan.

Pendidikan Bilingual pada Perkembangan Bahasa Anak

Posted by rrr08 on 20 June 2010 in Academic |

Peran dan Pengaruh Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia Dalam program Bilingual Bagi Perkembangan Bahasa Anak

  1. Fenomena bilingual saat ini

Kemampuan bahasa asing menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat saat ini. Fenomena ini dikaitkan dengan era globalisasi yang terjadi di setiap negara di dunia. Globalisasi yang identik dengan tidak ada batasan bagi negara-negara di dunia menuntut suatu bahasa komunikasi universal. Saat ini bahasa yang dijadiakn bahasa universal di dunia adalah bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa inggris, dijadikan prasyarat kesuksesan bagi seseorang di masa depan. Anggapan di masyarakat menyatakan bahwa orang yang mahir berbahasa asing akan lebih diterima di dunia kerja. Asumsi ini membuat berbagai institusi pendidikan menyediakan pendidikan bahasa asing bagi perkembangan bahasa anak, termasuk menyediakan program bilingual.

Bilingual berarti mampu menggunakan dua bahasa dengan baik. Sekolah yang menyediakan program bilingual berarti menggunakan dua bahasa di dalam kegiatan pendidikannya.  Bahasa yang sering digunakan pada sekolah bilingual di Indonesia adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dengan menerapkan konsep bilingual pihak sekolah dan orang tua mengharapkan anak dapat lebih mahir dan menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Saat ini sekolah-sekolah di Indonesia mulai menerapkan program bilingual sebagai program pengembangan bahasa pelajar. Program ini berada di tingkat SD, SMP, dan SMA dengan fokus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris pada anak.

  1. Permasalahan umum pendidikan bahasa asing di Indonesia

Saat ini program bilingual sering dijadikan perhatian bagi orang tua dalam mencari sekolah bagi anaknya. Keberadaan program bilingual menjadi variabel utama yang dipertimbangkan orang tua mengenai kualitas suatu sekolah bagi anaknya.  Hal ini membuat orang tua antusias memaksimalkan kemampuan berbahasa asing anak dengan memasukkannya ke sekolah atau ke kelas berprogram bilingual. Fenomena berbahasa Inggris di sekolah ini kemudian membuat bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa pertama terabaikan, tidak hanya oleh pihak sekolah tetapi juga oleh orang tua. Banyak orang tua yang lebih bangga jika anaknya mendapatkan nilai yang tinggi pada pelajaran bahasa Inggris daripada nilai bahasa Indonesia.

Permasalahannya adalah apakah program pendidikan bilingual yang ada di indonesia sudah tepat bagi pendidikan bahasa bagi anak mengingat semakin menurunnya penghargaan terhadap bahasa ibu mereka, yaitu Bahasa Indonesia. Permasalahan selanjutnya adalah semakin terinternalisasinya anggapan di masyarakat yang menyatakan bahwa kemampuan Bahasa Inggris lebih penting dari pada kemampuan Bahasa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi  dan tantangan dunia kerja.

Permasalahan lain adalah menurunnya tingkat kecintaan generasi muda Indonesia di bidang bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan sehari-hari di lingkungan anak muda termasuk anak-anak adalah bahasa yang sudah tercampur dengan bahasa dan gaya bahasa negara luar. Sering kali kemampuan konsep dan minat terhadap bahasa Indonesia anak lebih rendah dari pada kemampuan dan minat anak terhadap Bahasa Inggris. Mereka merasa lebih berpendidikan dan memiliki kelas sosial tinggi jika mennggunakan bahasa Inggris di dalam percakapan sehari-hari.

  1. Dua tipe bilingual

Menurut Dr. David Freeman, Professor of Curriculum and Instruction, dan Dr. Yvonne Freeman, Professor of Bilingual Education dari Amerika serikat, ada dua tipe bilingual, yaitu:

1)      Substractive programs, yaitu program pendidikan di mana semua instruksi pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris. Penggunaan bahasa pertama digantikan sepenuhnya oleh bahasa Inggris. Kebanyakan sekolah-sekolah bilingual di Indonesia menerapkan program ini.

2)      Additive programs, yaitu proses pembelajaran dilakukan dalam bahasa pertama anak maupun bahasa asing. Fokus utamanya adalah mengembangkan keterampilan berbahasa akademik anak, baik dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Menurut Freeman, bahasa pertama atau bahasa ibu penting bagi anak untuk menentukan konsep, terutama dalam hal akademik. Jika anak sudah menguasai konsep maka akan lebih mudah bagi anak tersebut belajar bahasa asing. Anak hanya perlu mentransfer konsep tersebut ke dalam bahasa asing. Risiko dari program substractive adalah keterampilan bahasa pertama anak menjadi berkurang. Perkembangan akademik anak akan di bawah standar meskipun menguasaan Bahasa Inggrisnya bagus. Anak tidak menguasai keterampilan bahasa secara akademik dalam bahasa pertamanya.

Riset dari Thomas & Collier tahun 1997 terhadap pelajar di Amerika Serikat menunjukan bahwa anak-anak yang belajar dengan program pendidikan addictive memiliki tingkat akademik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya yang menggikuti program substractive. Pada awal pendidikan, anak dengan program substactive memang menunjukan kemampuan yang lebih tinggi dan cepat, namun ketika anak memasuki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, kemampuan akademiknya menurun. Hal ini terjadi karena konsep yang dimiliki anak dengan konsep substractive tidak sekuat anak dengan program addictive. Sehingga jika mereka menemukan konsep pelajaran yang lebih rumit, mereka tidak memiiki pedoman dalam memahaminya. Inilah yang menyebabkan anak substractive akan mengalami kemunduran pada perkembangan pendidikan, termasuk perkembangan bahasa di tingkat selanjutnya.

Menurut Freeman, anak membutuhkan waktu dua tahun untuk belajar social language atau bahasa percakapan sehari-hari. Sedangkan untuk academic language atau kemampuan bahasa akademik (kemampuan anak membaca, menulis, berpikir, dan memahami sesuatu) anak membutuhkan waktu sekitar empat sampai sembilan tahun untuk belajar menguasainya. Jadi kemampuan bahasa akademik adalah landasan atau pondasi bagi pendidikan anak. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang digunakan di dalam semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa akademik penduduk Indonesia adalah bahasa Indonesia.

  1. Permasalahan program bilingual

Bahasa pada dasarnya adalah kultural, yaitu terkait dengan kebudayaan. Konteks pembelajaran dikaitkan dengan proses pengenalan diri seseorang. Seorang anak akan mengenali dirinya sendiri melalui beberapa tahapan.  Ia akan lebih cepat menguasai bahasa yang digunakan di sekitar lingkungannya karena bahasa itulah yang selalu didengarnya. Kesadaran ini disebut kesadaran kultural, yaitu pemahaman jati diri dan identitas seseorang. Jika anak  menyadari identitas dirinya maka ia akan tahu bagaimana harus bersikap dan membawakan diri.

Metode bilingual tidak bisa dengan demikian saja diterapkan di Indonesia yang menganut bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia. Secara kultur, di Indonesia juga terdapat kondisi multilingual, yaitu keberadaan bahasa daerah. Bahasa daerah adalah bahasa yang sering didengar anak dalam percakapan sehari-hari di lingkungan masyarakatnya. Keadaan ini membuat anak dapat cepat menguasai bahasa daerah dan kemampuan ini dikuasai dengan mudah. Namun Bahasa Inggris bukanlah bahasa yang umum digunakan di suatu lingkungan masyarakat Indonesia di bagian manapun sehingga anak tidak bisa begitu saja dipaksa mempelajari bahasa Inggris.

Dampak terlalu dini dari program bilingual yang dipaksakan kepada anak seperti pada program substractive akan menimbulkan kegamangan dan konsep pemahaman bahasa yang tidak jelas Contohnya adalah kerancuan saat seorang anak mulai belajar membaca dan menulis. Misalnya kerancuan huruf A yang dilafalkan ”e” dalam bahasa Inggris. Anak akan mengalami kerancuan dan kebingungan dalam konsep bahasa karena ia akan bingung menyadari terdapat perbedaan diantara kedua bahasa yang dipelajarinya. Masalah ini terjadi karena Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris berbeda secara struktural dan tata cara aturan kalimat. Anak akan kesulitan memahami konsep dan struktur bahasa secara akademik.

  1. Dual language

Program dual language mengacu pada konsep additive program. Sistem pengajaran dual language diantaranya dengan mengadakan mata pelajaran yang berbahasa Indonesia dan mata pelajaran yang menggunakan Bahasa Inggris. Cara dual language lainnya adalah dengan menetapkan ”language of the day” Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia secara bergantian. Dengan demikian anak dapat menguasai konsep bahasa baik dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Anak akan belajar mempelajari satu bahasa dengan lebih lama dan terjadi di segala apek pendidikannyadi dalam satu hari tersebut.

Penelitian Freeman di Washington, Amerika Serikat, menunjukan hasil bahwa anak-anak yang menjalankan konsep dual language, kemampuan akademiknya akan kuat, baik dalam bahasa pertamanya maupun dalam bahasa asing. Mereka juga lebih sukses dan dibayar tinggi ketika bekerja di perusahaan-perusahaan.

Program dual languge berusaha menyeimbangkan kemampuan bahasa anak tanpa mengabaikan bahasa pertama anak. Anak akan dilatih menguasai konsep bahasa pertama terkebih dahulu, sedangkan bahas Inggris akan ditambahkan secara perlahan sehingga terbiasa. Cara ini lebih efektif meningkatkan kemampuan bahasa asing anak dari pada cara biingual substractive yang memasukan unsur paksaan penguasaan bahasa asing terhadap anak.

  1. Kesimpulan

Bahasa mempunyai keterkaitan dengan proses pembentukan kesadaran  diri dan kedewasaan budaya seseorang. Sebagai suatu proses, perkembangan memerlukan waktu dan tidak dapat begitu saja dipercepat. Pembelajaran mengenai bahasa seharusnya dilakukan secara bertahap. Anak harus terlebih dahulu menguasai bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Mereka harus diperkenalkan kata-kata dalam bahasa pertama dengan baik termasuk mengenai konsep struktur, tata bahasa dan kosa kata.  Jika pemahaman konsep sudah dimiliki anak baru kemudian anak dikenalkan dengan bahasa asing. Anak sudah memiliki rujukan jika menghadapi bahasa asing. Ia akan menafsirkan pembelajaran bahasa asing dengan konsep yang sudah ia miliki dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa dapat berkembang karena dilatih dan dipraktikkan di kehidupan sehari-hari. Bahasa Inggris yang hanya dipelajari di sekolah tanpa diterapkan di ruamh akan kurang berhasil. Jika orang tua mengharapakan kemampuan bahasa Inggris anak baik maka orang tua harus berpartisipasi terhadap perkembangan bahasa anak. Orang tua dapat turut serta mengajari dan membiasakan anak berbahasa Inggris dengan mengajak berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris di rumah. Poin paling penting adalah jangan sampai anak tertekan dalam menjalani pembelajaran bahasa yang diberikan kepadanya baik dari pihak sekolah maupun dari orang tuanya.

Daftar pustaka

Sutioso, Andy. 2006. Bahasa Asing Dalam Pendidikan Anak kita. http://www.semipalar.net/tulisan/tulisan 24.html (12 Desember)

C.K, Angela Wika. Peran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia Dalam Pendidikan Bilingual : www.ayahbunda.co.id (12 Desember 2009)

C.K, Angela Wika. 2009. Bilingual Tidak Efektif, Dual Language Solusinya : www.ayahbunda.co.id (12 Desember 2009)

perkembangan fisik dan kognitif pada remaja

Posted by rrr08 on 20 June 2010 in Academic |
  1. Perkembangan Fisik Pada Remaja

1.1. Perubahan Pubertas

Pubertas bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Sedikit sulit menetapkan waktu awal seorang anak memasuki periode remaja karena setiap anak mengalami waktu yang berbeda-beda untuk mengalami pubertas pertama. Pada periode ini pertumbuhan dan perubahan anak terjadi dengan cepat. Perubahan ini terutama disebabkan oleh kerja hormon. Kelenjar hipofisis menghasilkan berbagai hormon, diantaranya adalah:

1)      Hormon pertumbuhan

2)      Hormon gonadotrop, yaitu yang mempengaruhi perkembangan seksual. Hormon testosteron, yaitu hormon yang bertanggung jawab terhadap perkembangan genital, meningkatkan tinggi tubuh, dan mengubah suara yang dominan terdapat pada anak laki-laki. Sedangkan hormon estradiol adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap perkembangan buah dada, uterin, dan bentuk tubuh pada anak perempuan.

3)      Hormone kortikotrop, yaitu hormon yang mempengaruhi kerja kelenjar suprarenalis untuk menghasilkan hormon adrenalin untuk pengaturan stress ataupun rangsangan dari luar. Akibat kerja hormon inilah remaja cenderung sering merasa cemas karena memiliki aliran darah yang cepat sehingga mereka lebih mudah bersikap tempramental dan emosinya sering tidak terkontrol.

Umumnya awal pubertas dicirikan dengan terjadinya dua proses, yaitu menstruasi pertama pada perempuan dan mimpi basah pertama kali pada laki-laki. Selain dua kejadian tersebut, terdapat pula perubahan-perubahan seks sekunder yang juga akan dialami oleh remaja. Pada perempuan diantaranya adalah tumbuhnya buah dada, pubic hair, dan bulu ketiak, melebarnya pinggul, terjadi perubahan suara, dan perubahan kulit. Sedangkan pada laki-laki ciri-ciri seks sekunder adalah mtumbuhnya pubic hair, bulu ketiak, bulu muka, terjadinya perubahan suara menjadi lebih berat, perubahan kulit, dan bahu menjadi lebih lebar.

Perubahan hormon dan bentuk tubuh pada perempuan terjadi lebih cepat sekitar dua tahun dibanding pada laki-laki. Pada kebanyakan perempuan, menstruasi pertama (menarche) terjadi paling cepat pada usia 10 tahun dan paling lambat terjadi sekitar usia 15.5 tahun dan rata-rata terjadi pada usia 13 tahun. Sedangkan mimpi basah pada laki-laki dialami rata-rata pada usia 12,5 sampai 14 tahun. Namun kisaran terjadinya menarche pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki mengalami perubahan seiring terjadinya perubahan zaman. Pada masa sekarang, kedua hal tersebut terjadi lebih cepat. Salah satu penyebabnya adalah karena membaiknya status gizi pada masyarakat sehingga produksi hormon lebih baik dan dapat terjadi dengan lebih cepat.

1.2. Perubahan Psikologi Terkait Perubahan Fisik Pada Remaja

Pada periode ini, remaja sangat memerhatikan bentuk tubuh mereka dan sangat peduli terhadap imej tubuh mereka dimata orang lain. Remaja  yang cepat mengalami pubertas memiliki rasa tidak puas yang lebih tinggi mengenai bentuk tubuh mereka dibanding remaja yang telat mengalami pubertas. Menurut penelitian, anak laki-laki yang mengalami pubertas lebih lambat  akan mencapai kesuksesan identitas pada usia dewasa. Sedangkan perempuan yang lebih cepat mengalami pubertas akan lebih rentan terhadap sejumlah masalah dibanding perempuan yang lambat mengalami pubertas. Contohnya adalah risiko kecenderungan merokok, depresi, dan kesalahan makan yang tinggi.

  1. 2. Perkembangan Kognitif Pada Remaja

2.1. Tahap Formal Operasional

Anak usia remaja mengalami peningkatan didalam proses berfikir. Pemikiran remaja menjadi lebih abstrak, logis, dan idealistis. Menurut Piaget, remaja berada pada periode kognitif formal operasional.

Pemikiran formal operasional menjadi lebih abstrak dibandingkan pemikiran anak-anak. Remaja tidak lagi terbatas hanya pada fakta yang dia lihat. Mereka mampu berfikir berdasarkan situasi, mencoba membangun hipotesis atau praduga, dan mencari alasan atau penyebab dibalik suatu perstiwa. Selain itu remaja juga sudah bisa berfikir tentang bagaimana ia berfikir dan mengapa ia dapat berfikir seperti iti. Hal ini dijelaskan oleh pernyataan “I began thinking about why I was thinking what I was. Then I began thinking about why I was thinking about why I was thinking about what I was”. Pernyataan ini sangat abstrak. Jadi jika seorang remaja sudah dapat berfikir seperti ini maka ia sudah masuk ke dalam tahapan formal operasional.

Selain abstrak, remaja juga berfikir idealis. Remaja mulai berfikir tentang karakteristik ideal mengenai dirinya sendiri dan orang lain. Saat ini remaja sudah mulai membayangkan cita-citanya. Ia memikirkan pekerjaan ataupun posisi ideal bagi ia di masa depan.

Usia remaja sudah mulai berpikir secara logis. Mereka sudah dapat berpikir seperti ilmuan, yakni mengatur rencana untuk menyelesaikan masalah dan memiliki sistematika di dalam mencoba solusi permasalahan. Keadaan ini disebut hypothetical deductive reasoning, yaitu kemampuan untuk mengembangkan hipotesis mengenai cara menyelesaikan masalah. Kemudian pemikirannya tersebut memiliki sistematika atau tahap-tahapan solusi masalah tersebut.

2.2. Social Cognition

Remaja memiliki tipe egosentrisme yang berbeda. Menurut David Elkind (1978) terdapat dua bagian dari sikap egosentrisme pada anak usia remaja. Pertama adalah imaginary audience yaitu keyakinan remaja bahwa orang lain tertarik kepada dirinya seperti juga ia tertarik terhadap dirinya sendiri. Maksudnya adalah seorang remaja merasa bahwa orang lain selalu ingin tahu mengenai semua aspek yang ada pada dirinya. Hal ini terkadang direfleksikan melalui tindakan-tindakan mencari perhatian orang lain. Contohnya remaja laki-laki yang membayangkan bahwa dirinya seperti seorang artis terkenal dimana semua orang akan memperhatikan jika ada  noda di celananya. Ataupun seorang remaja perempuan yang merasa bahwa semua orang akan memperhatikan satu jerwat kecil yang muncul di wajahnya.

Bagian kedua adalah personal fable yaitu bagian dari egosentris remaja mengenai perasaan unik atau perasaan berbeda. Perasaan unik dan berbeda yang dimiliki seorang remaja membuat ia merasa bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat memahami apa yang sedang mereka rasakan. Saat ini remaja membayangkan suatu keadaan yang sering kali berbeda dengan dunia nyata. Kemudian mereka akan sering berkhayal dan berangan-angan.

Seorang remaja memulai menginterpretasikan atau memandang suatu kepribadian dengan cara yang berbeda. Yang pertama, ketika seorang remaja mendapatkan informasi mengenai seseorang, mereka mempertimbangkan informasi yang telah diperoleh sebelumnya dan tidak langsung percaya terhadap suatu informasi yang didapatkan.

Kedua, seorang remaja lebih suka memandang suatu content ataupun situasi yang ia alami dengan melihat perbedaan diantaranya dibandingkan melihat persamaannya. Ketiga adalah jika seorang remaja mendapatkan gambaran mengenai orang lain, mereka akan memandang dengan lebih dalam dan kompleks, termasuk aspek yang tersembunyi. Oleh sebab itu ketika usia remaja, anak memiliki kecenderungan untuk tertarik terhadap sesuatu yang berhubungan dengan rahasia. Hal inilah yang memicu seorang anak memiiki rasa ingin tahu yang tinggi.

Copyright © 2010-2017 rrr08's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.